Dulu, internet itu rasanya menyenangkan. Media sosial terasa hidup, informatif, dan kalau pintar memilih akun yang diikuti, bahkan mencerdaskan. Twitter, misalnya, pernah berada di masa keemasannya sekitar awal pandemi COVID-19. Meski sering disebut “hellscape”, nyatanya platform itu bisa jadi tempat berkumpulnya jurnalis hebat, kritikus film, podcaster, akademisi, sampai teman-teman yang cerdas dan jenaka. Scroll sebentar saja, kita bisa merasa jadi bagian dari lingkaran dalam dunia digital.
Lalu semuanya berubah.
Ketika Elon Musk benar-benar membeli Twitter dan mengubahnya menjadi X, banyak orang awalnya mengira ini hanya akan jadi blunder bisnis singkat. Nyatanya tidak. Pelan tapi pasti, kualitas platform itu runtuh. Centang biru yang dulu jadi simbol kredibilitas dijual bebas, algoritma diutak-atik sesuai selera pemilik, moderator diberhentikan, dan lini masa pun dipenuhi iklan berisik, hoaks, konten ekstrem, hingga spam dan penipuan. Anehnya, banyak orang tetap bertahan. Entah karena takut kehilangan audiens, atau sekadar FOMO digital.
Fenomena ini ternyata tidak berhenti di satu platform. Facebook, Instagram, TikTok, Amazon, Google, Spotify, hingga layanan transportasi online, semuanya terasa makin tidak ramah pengguna. Kita seolah check-in ke dunia digital modern, tapi tidak pernah bisa benar-benar check-out. Seperti lirik lagu lama: boleh masuk kapan saja, tapi sulit sekali keluar.
Istilah untuk kondisi ini datang dari Cory Doctorow, penulis dan aktivis teknologi asal Kanada. Pada 2022, ia memperkenalkan kata yang terdengar kasar tapi sangat tepat: enshittification. Istilah ini menggambarkan proses bagaimana layanan digital yang awalnya bagus dan dicintai pengguna, perlahan berubah jadi buruk dan menyebalkan.
Menurut Doctorow, hampir semua platform besar melewati tiga tahap yang sama. Pertama, mereka memanjakan pengguna demi membangun komunitas. Kedua, mereka mulai memanjakan pengiklan atau mitra bisnis untuk menghasilkan uang. Ketiga, dan ini yang paling parah, mereka memeras kedua belah pihak sekaligus demi mengeruk keuntungan maksimal. Hasil akhirnya adalah layanan yang mahal, penuh iklan, minim kualitas, dan nyaris tak punya alternatif.
Amazon jadi contoh paling mudah. Awalnya ia unggul karena cepat dan murah. Lalu menarik penjual dengan janji pasar luas. Setelah kompetitor tersingkir, Amazon menaikkan biaya, memaksa penjual ikut aturannya, dan tak lagi punya insentif untuk meningkatkan layanan bagi konsumen. Dalam kondisi seperti ini, membuat layanan jadi lebih buruk justru bisa menguntungkan.
Masalahnya, kata Doctorow, ini bukan kasus terisolasi. Hampir seluruh internet kini berada dalam fase yang ia sebut enshittoscene. Dengan smartphone di tangan, kita menjadi “tahanan perangkat kita sendiri”.
Apakah ini tak terelakkan? Banyak yang akan bilang, “Ya begitulah kapitalisme.” Tapi Doctorow menolak jawaban itu. Ia bahkan menyebut sistem digital hari ini bukan kapitalisme, melainkan “teknofeodalisme”. Segelintir raksasa teknologi bertindak seperti tuan tanah digital: mereka tidak menjual produk, tapi menyewakan akses ke platform yang tak bisa dihindari.
Kabar baiknya, Doctorow percaya internet masih bisa diperbaiki. Resepnya ada empat: persaingan sehat, regulasi kuat, interoperabilitas, dan pemberdayaan pekerja teknologi. Monopoli harus dipatahkan lewat hukum antitrust yang tegas dan terkoordinasi secara global. Sistem dan platform harus bisa saling terhubung, agar pengguna tidak terkunci dalam satu ekosistem. Dan yang tak kalah penting, para pekerja teknologi, yang sering kali sama frustrasinya dengan pengguna perlu diberi ruang dan kekuatan untuk membangun teknologi yang benar-benar berpihak pada manusia.
Internet dulu pernah baik. Itu bukan nostalgia kosong, tapi fakta sejarah. Dan kalau pernah baik, berarti secara teori ia bisa baik lagi. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita mau berjuang keluar dari “penjara digital” ini, atau terus bertahan sambil mengeluh di lini masa yang makin penuh sampah?

